Bercermin Pada Soliditas Sahabat

Diposkan oleh Unknown on Tuesday, October 18, 2011



Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA

Kirim Print
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. (Al-Baqarah: 214)

Ayat ini dan ayat-ayat yang senada dengannya dapat ditemukan pada tiga tempat dalam Al-Qur’an, yaitu surah Ali Imran: 142 yang berbunyi, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal Allah belum mengetahui orang-orang yang berjuang diantara kamu dan orang-orang yang bersabar”, dan surah Al-Ankabut: 2-3, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, sehingga Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (Al-Ankabut: 2-3).

Secara historis, ayat-ayat di atas memang ditujukan kepada para mujahid generasi pertama dari umat ini, namun secara makna ayat ini lebih tepat untuk dijadikan bahan tarbiyah bagi mereka yang diserahkan amanah dakwah IlaLlah untuk memelihara soliditas dan keteguhan mereka, bahwa kemenangan itu dekat dan identik dengan perjuangan, cobaan dan ujian. Hanya mereka yang solid yang berhak meraih “kemenangan yang hakiki”. Seperti yang tersirat dari jawaban Allah atas pertanyaan dan keluhan Rasul dan para sahabatnya “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”.

Sayyid Quthb memahami ayat di atas, bahwa pertolongan Allah akan diberikan kepada mereka yang konsisten hingga akhir hayat, yang tetap mantap meskipun dalam penderitaan dan kesengsaraan, tetap teguh dan tegar ketika menghadapi goncangan, dan pada puncaknya mereka yakin bahwa tidak ada pertolongan melainkan pertolongan Allah. Pada level tertinggi ini, barulah mereka layak dan berhak mendapat surgaNya setelah ujian yang maksimal dan bersabar di atasnya. Bahkan secara khusus dalam salah satu ceramahnya memperingati peristiwa hijrah Rasulullah saw, Sayyid Quthb mengingatkan, bahwa orang yang berhak memperingati sejarah keagungan perjuangan dakwah Rasulullah bersama para sahabatnya adalah mereka yang telah mampu mengangkat jiwa mereka pada level tertinggi dari sikap zuhud terhadap harta, zuhud terhadap kedudukan serta zuhud dalam bentuk apapun dari kemungkinan bisa memalingkan konsistensinya dari jalan dakwah, karena ada yang lebih besar dari itu semua, yaitu surga Allah swt.

Padahal jika dicermati secara logika, sangatlah mudah bagi Rasulullah untuk memenangkan dakwah Islam dan menghancurkan para penentangnya dengan langsung memohon kepada Allah agar segera menghancurkan mereka, seperti yang pernah dimohon oleh Nabi Nuh dan Nabi Luth as, maka kaumnya diluluhlantahkan oleh Allah swt dan digantikan dengan kaum yang baru. Tetapi tidak dengan Rasulullah saw. Beliau malah memilih jalan yang sukar, jalan jihad dan jalan pengorbanan, karena jika kemenangan itu diraih dengan cara yang mudah, maka soliditas dan keteguhan para sahabatnya belum teruji. Beliau memilih jalan yang sukar dan penuh dengan ujian dan cobaan, semata-mata agar dijadikan teladan bagi umat setelahnya bahwa kemenangan itu harus dengan perjuangan, pengorbanan dan menempuh jalan yang sukar, karena kemenangan yang mudah diraih tidak akan kekal, begitu juga dengan dakwah yang “mudah” hanya akan diminati oleh orang-orang yang “lemah”. Sedangkan kemenangan yang hakiki dan dakwah yang sukar memang hanya bisa disertai oleh mereka yang kuat, teguh dan solid dengan keimanan mereka,

Secara korelatif menurut Imam Ar-Razi dalam At-Tafsir Al-Kabir bahwa ketika pada ayat sebelumnya (Al-Baqarah: 213) Allah menjamin akan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya ke jalan yang lurus dan kepada meraih surgaNya, maka kehendak Allah tersebut tidak akan berlaku melainkan setelah melalui beberapa ujian dan kesukaran, Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan)…..”. sehingga keutamaan Allah yang terbesar hanya layak diberikan kepada mereka yang telah mengalami sunnatuLlah berupa ujian dan kesukaran dalam mengarungi dan mendakwahkan kebenaran ajaran Allah.

Berdasarkan sebab turunnya, ayat ini menurut Ibnu Abbas diturunkan untuk membersihkan hati para sahabat yang baru saja berhijrah ke Madinah dengan mengorbankan segala yang mereka miliki. Belum lagi mereka ternyata harus menerima perlakuan buruk dari orang-orang Yahudi Madinah yang sangat membenci Rasulullah saw. Riwayat lain dari Qatadah dan As-Suddi menyebutkan bahwa ayat ini turun terkait dengan perang Khandak ketika pasukan muslim harus menghadapi masa yang sukar dan penderitaan yang cukup berat, ditambah dengan pasukan dalam jumlah besar yang mengepung mereka dari segenap penjuru. Allah berfirman mengingatkan akan kesukaran suasana perang Ahzab, “(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap (lagi) penglihatanmu dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan sangat dahsyat”. (Al-Ahzab: 10-11) Riwayat yang ketiga menyebutkan bahwa ayat ini turun pada perang Uhud ketika Abdullah bin Ubay bin Salul berujar dengan nada provokasi kepada para sahabat Rasulullah saw, “Sampai kapan kalian akan terus membunuh diri kalian. Sekiranya Muhammad itu seorang nabi, niscaya Allah tidak akan menghendaki kalian menjadi tawanan musuh atau kalian terbunuh”.

Inilah jalan yang telah ditempuh oleh generasi awal umat ini dan yang harus ditempuh oleh umat Islam dalam setiap generasi. Inilah jalan keimanan, perjuangan,… ujian dan cobaan… jalan kesabaran dan istiqamah. Jalan ini akan diiringi dengan kemenangan dan kenikmatan (surga Allah swt). Maka tidaklah memadai bagi seorang mukmin dengan hanya berjuang. Melainkan ia harus siap dan bersabar menanggung beban dan tugas-tugas dakwah yang berkesinambungan. Terlebih lagi bersabar atas tribulasi harian dakwah yang tidak akan pernah berhenti; bersabar untuk senantiasa komitmen di atas landasan iman, bersabar di saat kebathilan berkuasa, bersabar atas panjangnya jalan dakwah dan banyaknya onak duri yang menghadang, bersabar atas keinginan untuk beristirahat dan berhenti sejenak dari aktifitas dakwah dan bersabar untuk meraih surga yang penuh dengan kepayahan dan jalan terjal yang mendaki. Semuanya untuk meraih keteguhan iman yang melayakkan diri berada dalam shaf para penghuni surgaNya kelak. Rasulullah mengingatkan akan kenyataan jalan menuju surga Allah swt, “Surga itu dipenuhi dengan sesuatu yang dibenci, sedangkan neraka itu diliputi dengan sesuatu yang menyenangkan”. (H. R. Muslim dan Tirmidzi)

Demikianlah sunnatuLlah dalam dakwah yang dipaparkan oleh ayat-ayatNya yang secara aplikatif berlaku dan terjadi dalam sejarah perjuangan dakwah Rasulullah dan para sahabatnya. Namun seringkali penyakit isti’jal mengikis sendi soliditas dan ketegaran dakwah kita, seperti yang pernah diingatkan oleh Rasulullah saw kepada sahabat Khabbab bin Al-Arat, “Namun kalian seringkali isti’jal (tergesa-gesa, tidak sabar). Padahal sebelum kalian ada yang harus menerima ujian yang sangat berat. Diantara mereka ada yang tegar meskipun digergaji dari ujung kepala hingga telapak kakinya. Diantara mereka juga ada yang tetap teguh saat harus disisir dengan sisir besi antara tulang dan dagingnya. Mereka tetap tidak bergeming dari agama Allah. Dan memang berdasarkan sunnatuLlah bahwa ujian terberat dan terbesar akan dihadapi oleh para Nabi, kemudian para orang-orang sholeh dan mereka yang bersikap seperti mereka. Seseorang akan diuji sesuai dengan komitmen agamanya. Jika besar keteguhannya dalam berpegang dengan ajaran agama ini, maka ia akan menerima ujian yang lebih”. (H.R. Al-Hakim)
“أشد الناس بلاء الأنبياء ثم الصالحون، ثم الأمثل
فالأمثل، يبتلى الرجل على حسب دينه، فإن كان في دينه صلابة زيد في البلاء”

Saatnya kita menguji soliditas dan keteguhan kita dalam dakwah ini dengan barometer ujian dan cobaan yang menghadang kita. Kita seharusnya berbahagia bahwa peluang untuk meraih keutamaan Allah yang terbesar terbentang luas di depan mata kita, dengan tetap bersikap teguh, tsabat, komit dan tsiqah dengan kebenaran dakwah ini dan pertolongan Allah. Mudah-mudahan “kemenangan hakiki” memang layak dianugerahkan Allah untuk kita karena kita adalah orang-orang yang “kuat”. Amin.

Sumber : http://www.dakwatuna.com/2007/bercermin-pada-soliditas-sahabat-rasulullah-saw/



Share

Artikel ini di Posting : Unknown Tentang Dunia Islam

Ruly Abdillah Ginting Terima Kasih sahabat telah membaca : Bercermin Pada Soliditas Sahabat Silahkan membaca artikel lainnya tentang di sini Tentang Dunia Islam
Anda bisa menyebarluaskan artikel ini, Asalkan meletakkan link dibawah ini sebagai sumbernya

:: Get this widget ! ::

{ 0 komentar... read them below or add one }

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers